Ketahui Bahaya Material Vulkanik Saat Gunung Semeru Meletus

Guguran lava Gunung Semeru yang berkilauan ditemukan dari Kecamatan Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Selasa 1 Desember 2019. (Mon / Antara)

JAKARTA – Gunung Semeru yang terletak di Lumajang, Jawa Timur, mengalami erupsi dan memuntahkan awan panas dan lava pijar. Lebih dari massa warga yang tinggal di sekitar lereng dan kaki Gunung Semeru harus mengungsi dari daerah yang terkena dampak.

Berdasarkan catatan dari Pusat Geologi Vulkanologi dan Mitigasi Geologi (PVMBG) di Pos Pengamatan Gunung Api Semeru, minat vulkanik Gunung Semeru sudah mulai menurun dan popularitasnya berada pada level II (Waspada). Meski begitu, Gunung Semeru tetap mengeluarkan awan hangat sebagai jalan 2,5 km dan dua getaran harmonik.

Secara visual Gunung Semeru dilindungi dengan kabut. Masyarakat dianjurkan sekarang untuk tidak melakukan kegiatan dalam radius satu kilometer di sekitar jalur peluncuran awan baru-baru ini.

Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa awan baru dan abu vulkanik yang dimuntahkan Gunung Semeru menggabungkan zat berbahaya, hidrogen sulfida (H2S), sulfur dioksida (SO2), dan nitrogen dioksida. Kain debu dapat merusak sistem pernapasan manusia, jika dihirup.

BPBD Kabupaten Lumajang dan instansi terkait lainnya telah menyiapkan lokasi evakuasi bagi warga erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur di beberapa titik sekaligus membantu sajian dapur lansia, bersama penyediaan air mudah. Selengkapnya: https://t.co/Kv6o1jL8HM p.c.twitter.com/8TrOJCOLTz – BNPB Indonesia (@BNPB_Indonesia) 2 Desember 2020

Zat Berbahaya dalam Abu Vulkanik

Ketika letusan terjadi, gunung berapi akan memuntahkan abu vulkanik yang mencakup partikel kelas satu dari batuan pijar. Partikel-partikel ini mampu memperburuk paru-paru, mata, tulisan dan saluran udara.

Menurut fakta dari American Lung Association, publisitas hingga abu vulkanik dapat membahayakan kebugaran setiap manusia dan hewan. Tidak sesederhana itu, abu vulkanik juga berbahaya bagi olahraga penerbangan karena mampu membahayakan mesin pesawat.

Seperti yang dinyatakan pada laman Halodoc, disebutkan bahwa menghirup abu vulkanik dapat merusak kesehatan manusia karena aerosol berbahaya dan gas beracun yang membentuk abu dapat mengiritasi paru-paru, mata, atau bahkan kulit.

Gangguan pernapasan atau infeksi respirasi akut (ISPA) adalah gejala yang paling sering dirasakan dengan menggunakan manusia yang menderita hujan abu vulkanik. Gejala meliputi lubang hidung berair, sakit tenggorokan / batuk, mengi / sesak napas, dan kemungkinan bronkitus.

Puing-puing abu vulkanik berkualitas tinggi juga dapat mengiritasi mata. Ditandai dari mata berubah menjadi gatal dan ungu, lecet atau goresan yang sangat baik pada kornea hingga iritasi di tempat bola mata atau konjungtivitis.

Abu vulkanik yang tersebar di udara dari dampak letusan gunung berapi juga dapat menyebabkan pori-pori dan iritasi kulit. Hal ini disebabkan oleh fakta puing-puing kotoran vulkanik memiliki iritasi dan rumah korosif.

Kotoran vulkanik ini mungkin bahkan lebih berisiko bagi manusia dengan pori-pori dan kulit sensitif. Gejala dimulai dengan kulit memerah dan gatal.

Sebisa mungkin untuk mengurangi masalah kebugaran dari paparan abu vulkanik, manusia dan pengungsi diminta untuk mengurangi aktivitas di luar pintu, memakai kacamata defensif yang menutupi perhatian, lubang hidung dan daerah mulut, dan mengenakan masker kain.

Gunung Ili Lewotolok meletus pada Rabu, 2 Desember 2020, pukul 09.42 WITA. Letusan itu terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 28 mm dan periode dua puluh dua detik. https://t.co/e4Eks50nAI melalui @id_magma – MAGMA Indonesia (@id_magma) 2 Desember 2020

Mitigasi Bencana yang ingin diselenggarakan

Perlu diingat, Indonesia berada di persimpangan tiga lempeng teknologi bumi. Hal ini juga menyebabkan Indonesia memiliki banyak gunung berapi atau cincin perapian.

Memahami situasi ini, itu mil lebih tinggi jika jaringan akrab dengan mitigasi bencana. Untuk membatasi korban dan diatur untuk kegagalan.

Mengutip rekomendasi dari BNPB, masyarakat yang berada di daerah bencana ingin menyiapkan beberapa keinginan untuk mewaspadai situasi darurat. Salah satunya dengan bantuan menyiapkan Tas Kesiapsiagaan Bencana.

Bagasi kesiapsiagaan bencana biasanya mencakup gadget dasar dan vital yang harus diberikan saat bencana atau keadaan darurat terjadi sesuai dengan kebutuhan setiap anggota keluarga. Termasuk cadangan makanan dan minuman, jika bantuan sudah tidak tiba lagi.

Berikut adalah beberapa hal yang perlu diingat sambil menyusun tas kesiapsiagaan bencana:

Berkas penting termasuk sertifikat awal, ijazah, sertifikat kendaraan, lingkaran kartu remi kerabat, dan lain-lain. Pakaian, seperti selimut, handuk, jas hujan dan perlengkapan mandi. Makanan ringan dan tahan lama termasuk mie langsung, diparut, cokelat, biskuit, dan lain-lain. Minum air putih yang minimal bisa memandu keinginan. Pengobatan pribadi atau publik. Alat bantu penerangan termasuk senter, lilin, jas, dan sebagainya. Siapkan uang tunai di bagasi untuk zat selama evakuasi. Bersiul sebagai alat sumber daya yang berguna jika sewaktu-waktu macet. Masker sebagai alat pengaman pernapasan. Radio atau ponsel untuk menampilkan statistik tambahan tentang kegagalan alami. Jangan lagi ketinggalan, kabel pengisi daya dan bank kekuatan.

Variasi bahasa Inggris, Cina, Jepang, Arab, Prancis, dan Spanyol dihasilkan secara mekanis melalui gadget. Jadi mungkin juga masih ada ketidakakuratan dalam menerjemahkan, tolong selalu lihat bahasa Indonesia sebagai bahasa dasar kita. (perangkat yang didukung melalui DigitalSiber.id)

Tinggalkan komentar