Menu
web artikel yang berisi tentang banyak mengulas tentang teknologi

Mengenal Stock Split, Stock Reverse, dan Stock Buyback

  • Bagikan

Dalam berinvestasi saham, kita sebagai investor pastinya akan sering mendengar aksi-aksi yang diambil oleh perusahaan tersebut demi suatu tujuan. Aksi yang dapat dilakukan oleh korporasi biasanya dapat mempengaruhi nilai saham atau perusahaan tersebut. Perusahaan dalam menjalankan aksi tersebut harus mendapat persetujuan dari sebagian besar pemegang saham.

Stock SplitAdalah sebuah aksi korporasi dalam memecah saham yang dimiliki agar saham yang beredar semakin banyak. Dengan aksi inventory break up, pastinya jumlah saham yang beredar akan bertambah sesuai dengan rasio yang ditetapkan. Akan tetapi sebagai investor tidak perlu khawatir karena aksi ini tidak mengubah nilai suatu perusahaan, melainkan hanya harga sahamnya saja.

Perusahaan A memiliki jumlah saham beredar sebanyak 1 juta lembar dengan harga Rp 10.000/lembar.

Nilai kapitalisasi perusahaan A adalah Rp 10.000 x 1.000.0000 lembar = Rp 10.000.000.000 (10 miliar).

A memutuskan untuk melakukan aksi inventory split dengan rasio 1 : 10.

Dengan aksi berikut, beberapa hal berubah :

– Setiap investor yang memiliki 1 lembar saham akan dikonversi menjadi 10 lembar.

– Harga saham A Rp 10.000 dibagi 10 menjadi Rp 1.000

– Jumlah saham yang beredar 1 juta lembar bertambah 10 kali lipat menjadi 10 juta lembar

Satu hal yang tetap sama adalah nilai kapitalisasi perusahaan A yaitu Rp 1.000 x 10.000.000 lembar = Rp 10.000.000.000. Jadi secara teori, aksi stock break up tidak memberikan keuntungan ataupun kerugian bagi investor.

Lalu Kenapa Aksi Stock Split Dilakukan?

1. Membuat harga saham terjangkau

Saham-saham di perusahaan bluechip biasanya naik terus hingga suatu titik di mana harga saham tersebut terlalu tinggi bagi para investor retail. Di sini perusahaan memutuskan untuk menurunkan harga saham agar lebih terjangkau bagi investor. Sebagai contoh :

Harga saham Astra Internasional (ASII) di tahun 2012 berkisar di Rp 60.000/lembar

Untuk membeli 1 lot saham ASII, dibutuhkan uang : 500 lembar (1 lot) x Rp 60.000 = Rp 30.000.000

Tentunya uang sebanyak Rp 30 juta bukanlah jumlah yang sedikit bagi investor retail, dan juga tidak mungkin hanya memegang 1 jenis saham saja dengan dana sebesar itu. Oleh karena itu ASII memutuskan untuk inventory break up dengan ratio 1:10 sehingga harga saham berkisar Rp 6.000. Dana yang dibutuhkan untuk membeli 1 lot pun turun menjadi Rp three juta sehingga lebih terjangkau bagi investor.

Baca : five Alasan Mengapa Pilih Saham Bluechip?

2. Meningkatkan likuiditas saham

Volume perdangan harian yang rendah juga bisa diatasi dengan melakukan stock break up sehingga ada lebih banyak saham yang bisa ditradingkan di marketplace. Sebagai contoh :

Mayora Indah (MYOR) di tahun 2016 melakukan aksi stock break up dengan rasio yang cukup besar yaitu 1:25

Dengan aksi ini, maka saham yang beredar meningkat dari 894 juta lembar menjadi 22,three miliar

Harga saham sebelumnya berkisar di Rp 32.000 terpecah menjadi Rp 1.000an.

Volume perdagangan juga meningkat dari sebelumnya di 600 ribu lembar menjadi kisaran 16 juta lembar.

Stock reverse atau reverse inventory split adalah lawan dari stock cut up yaitu aksi korporasi yang bertujuan untuk mengurangi jumlah saham dengan rasio tertentu. Jika ratio 1:2 maka setiap pemegang saham 2 lembar akan kehilangan 1 lembar saham tersebut, tapi harga saham tersebut juga akan meningkat 2 kali lipat. Oleh karena itu para investor tidak perlu khawatir karena nilai kapitalisasi perusahaan akan tetap dan tidak berubah.

Secara prakteknya, aksi ini sangat jarang dilakukan oleh perusahaan di Indonesia. Biasanya inventory reverse bertujuan untuk meningkatkan harga saham agar tidak terlalu murah di marketplace. Namun sejarah di Indonesia mencatatkan aksi ini tidak pernah berakhir dengan baik. Tercatat perusahaan yang pernah melakukan aksi ini adalah Bakrie & Brothers (BNBR), Buana Listya Tama (BULL) dan Smartfren Telecom (FREN).

Harga saham BNBR dan FREN terus turun setelah melakukan inventory reverse bahkan hingga menuju ke harga terendah dalam perdagangan saham yaitu Rp 50. Hal yang sama juga dialami oleh BULL, tapi saham ini lebih baik karena tidak menyentuh angka Rp 50. Saham BULL terus turun dari Rp three hundred menjadi berkisar di angka Rp 100an. Baru-baru ini di tahun 2017 saham organization Bakrie lainnya juga melakukan reverse stockyaitu Bakrie Sumatra Plantation (UNSP) dan Energy Mega Persada (ENRG).

Stock Buyback / Repurchase

Aksi perusahaan dalam membeli saham sendiri (yang beredar di market) sehingga dapat mengurangi jumlah saham yang beredar. Efek yang ditimbulkan dari aksi ini berlawanan dengan aksi right trouble, dimana persentase saham yang dimiliki investor meningkat karena penurunan jumlah saham beredar.

Baca : Keuntungan dan Kerugian Right Issue

Hal-hal yang menyebabkan perusahaan ingin melakukan buyback : 

– Menganggap harga saham yang beredar di marketplace tergolong murah / undervalued

– Sebagai cara lain untuk memberikan praise kepada investor selain dengan pembagian dividen

– Dalam beberapa kondisi dapat menghilangkan ancaman dimana saham ingin dikuasai oleh pihak tertentu

– Membeli dengan tujuan untuk software kepemilikan saham oleh karyawan sehingga dapat meningkatkan loyalitas dan kinerja

Baca : Ulasan Lengkap Dividen

Efek-efek dari buyback stock : 

– Meningkatkan book value dan incomes in step with share

– Rasio PBV akan turun seiring dengan book value yang naik

– Nilai kapitalisasi saham bisa turun jika harga saham tidak naik setelah aksi buyback

Baca :  Analisa Saham dengan PBV dan PSR

Contoh saham yang melakukan buyback :

– Harum Energy (HRUM) berencana untuk buyback 10% saham yang beredar di periode Desember 2016 sampai Juni 2018 dengan nilai maksimum USD 27 juta

– Media Nusantara Citra (MNCN) melakukan buyback di periode Juli 2015 sampai Januari 2017 sebanyak 10% saham beredar dengan general tertinggi Rp 3,2 triliun

Salah satu investor legendaris Warren Buffett juga sangat mengemari aksi repurchase / stock buyback, karena dengan begitu persentase saham yang dimilikinya akan meningkat. Namun Buffett juga membatasi bahwa beliau tidak akan melakukan aksi buyback dengan rasio PBV di atas 1,2. Jika rasio PBV di atas itu, Buffett yakin bahwa inventory buyback tidak memberikan manfaat karena harga saham berada di atas nilai intrinsik.

Baca : Belajar dari Warren Buffett mengenai Bisnis Textile

Namun buyback tidak selalu berarti baik, beberapa perusahaan melakukan aksi ini dengan didanai oleh uang pinjaman bukan dengan uang coins yang berlebih. Dengan dibiayai uang pinjaman tentunya di masa mendatang perusahaan harus membayar kembali pinjaman disertai dengan bunga. Juga tidak semua perusahaan benar-benar melakukan buyback ketika mereka mengumumkan aksi ini, beberapa hanya bertujuan untuk mempengaruhi opini investor.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.